Jumat, 03 April 2020

PEJUANG SKRIPSI DI TENGAH PANDEMI


Hallo!!!
Apa kabar kalian pejuang skripsi? Udah hampir 3 pekan ya jeda kuliah. Selama 3 pekan #dirumahaja selain rebahan ngapain aja? Mungkin beberapa dari kalian ada yang menghabiskan waktunya buat bantu ortu, belajar masak, beresin rumah, main game, kelas online, atau belajar hal baru.

Terus, yang anak semester akhir ngapain aja nih? Gimana dengan “Skripsi” kalian?? Ada kendalakah?? Atau lancar jaya?? Tentang apapun yang kamu alamin sekarang yang berkaitan dengan skripsi tetap semangat dan fokus yaa. 😊

Aku mau bagi dikit pengalamanku mengenai “Skripsiku”. Mungkin beberapa dari kalian juga punya cerita yang sama juga kek aku. Kadang mikir nggak sih, angkatan kita nih emang nggak dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai kuliah pun dapat “UJIAN” berat mulu ya. Waktu SD UN 5 paket, SMP UN 20 paket, SMA make CBT, dan sekarang saat lagi ngerjain skripsi malah ada wabah Covid-19. Semangat buat kita semua.

Dari awal kuliah semester awal sampai akhir ini emang banyak banget ya lika-likunya. Awal semester yang masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru dan menyakinkan diri bahwa “Saya nggak salah jurusan”. Belum lagi bagi yang nggak terbiasa begadang, saat masuk bangku kuliahan pasti wajib dah tu ngerasain nggak tidur 2 hari 2 malam buat ngejar deadline atau bahkan ikut kepanitiaa di kampus. Lalu pertengahan semester udah mulai nyiapin mau fokus ke konsentrasi apa bahkan udah mulai nyari bahan buat Tugas Akhir atau yang biasa kita sebut “Skripsi”. Masuklah pada akhir semester yang menjadi penentu kelulusan.

Kalian anak semester akhir pasti pernah dapat pertanyaan-pertanyaan dari temen, ortu, bahkan tetangga di lingkungan tempat tinggal seperti ini:
“Udah dapat judul belum?”
“Kapan seminar proposal, seminar hasil, sama sidang skripsinya?”
“Kapan wisuda?”
“Kapan nyusul?”
“Si A udah wisuda nih, kok kamu belum? Males ya ngerjain skripsi?”
Pertanyaan-pertanyaan yang emang nggak bisa kita hindari sih. Tapi pernah nggak sih lama-lama kesel juga di sambar pertanyaan itu berulang-ulang? Mungkin ada yang kesel dan ada juga yang cuek aja.

 Kalo aku sih pernah ngerasain kesel ditanyain hal yang sama bahkan dari orang yang sama. Emang sih, niat mereka bukan bermaksud mengejek. Tapi mungkin karna aku orangnya baperan jadi kadang nggak suka aja di hujani pertanyaan seperti itu. Sedangkan dari aku sendiri untuk bertanya hal seperti itu ke orang lain masih mikir-mikir, takut ada yang tersinggung. Jadi, lebih sering nanya atau bilang kek gini:
“Gimana proposalnya, dah keterima sama reviewer?”
“Kabarin ya kalo udah sidang atau wisuda”
“Ada kendala nggak? Semangat ya, pasti ada jalan keluar kok”
“Coba ke dosen A, minta masukan”.
Ya kembali lagi, tiap orang beda-beda. Balik lagi ke diri kita masing-masing mau nerima atau nggak.

Cuma saat ini pasti ada juga nih yang lagi tertekan mikirin nasib kelanjutan dari skripsi di tengah pendemi yang melanda. SD, SMP, dan SMA ujiannya di hapus. Lalu, kita yang mahasiswa semester akhir gimana? Pada akhirnya dikembalikan ke masing-masing kampus sesuai surat edaran dari Kemendikbud. Sebelum ada wabah, sudah muncul berbagai rintangan seperti rebutan judul sama teman, nyari dosen pembimbing (beberapa kampus beda kebijakan ada yang dosen pembimbingnya langsung diberikan dari jurusan ada juga yang perlu nyari sendiri), ngumpulin data, nyari surveyor, kucing-kucingan sama dosen pembimbing, administrasi yang ribet, dan masih banyak lagi rintangannya. Sekarang karena ada wabah yang kita nggak tau sampai kapan kelarnya buat kepala makin pusing aja ya. Hehehehehe.

Bermunculan solusi lain seperti bimbingan online bahkan beberapa kampus menerapkan kebijakan lain sebagai pengganti tugas akhir atau skripsi ini. Tapi meurut kalian gimana? Udah pernah bimbingan online dengan dosen pembimbing? Atau udah ada topik pengganti skripsi? Kaget iya, kesel juga iya. Mau marah, tapi nggak tau marahnya ke siapa. Yang ujung-ujungnya di pendem dan jadi stress sendiri. Mikir hal terburuk misal harus nambah satu semester lagi, takut bayar UKT lagi. Kamu nggak sendiri. Banyak teman-teman kita ngerasain hal yang sama.

Mengenai urusan yang berbau admisnistrasi kita hanya bisa pasrah dengan kebijakan dari kampus nanti. Sekarang yang bikin jadi masalah buat beberapa mahasiswa adalah susahnya bimbingan secara online dengan dosen pembimbing dan kesulitan mengumpulkan data bagi mahasiswa yang mengambil penelitiaan yang melibatkan kegiatan diluar rumah dan bertemu responden. Gimana ya? Walaupun nggak semua dosen seperti ini, tapi ada saja dosen yang menghilang entah kemana di saat mahasiswanya ingin bimbingan. Padahal memdapatkan bimbingan merupakan hak mahasiswa dan kewajiban dosen pembimbing untuk memberikan materi atau bimbingan kepada mahasiswanya. Misal, ada mahasiwa yang malas ngerjaiin skripsinya dan dosen menolak lain lagi ceritanya. Itu memang hak dosen menolak mahasiswa yang tidak memiliki tanggung jawab terhadap skripsinya.

Tapi bagaimana dengan mahasiswa yang aktif ingin bimbingan tapi malah dosen pembimbingnya yang terus menghindar? Dichat kadang nggak diread, ketika sudah diread malah tidak ada balasan bahkan diabaikan. Lebih nyeseknya lagi ketika dosen pembimbing online dan kita mengechat untuk meminta bimbingan tapi malah diabaikan sama sekali. Ada juga beberapa kasus dimana sudah janjian ketemuan dengan dosen pembimbing di kampus dan menunggu berjam-jam, setelah dihubungi kembali untuk mendapatkan kepastian ternyata beliau ada kesibukan lain.

Aku mau cerita sedikit tentang kasusku. Dosen pembimbingku udah termasuk dosen senior di kampus. Aku milih beliau sebagai dosen pembimbing karena lihat dari jam terbangnya yang menurutku sudah sangat ahli dibidangnya yang sesuai dengan judul yang aku angkat. Selama awal bimbingan emang agak “seret”, dosenku hanya bisa ditemui di kampus dan tipe dosen yang bisa dibilang sangat jarang membalas chat dari mahasiswanya. Kebayang kan gimana susahnya buat ketemuan dengan beliau. Tahapan bimbingan yang biasa aku lakuin itu pertama pasti selalu ngabarin ke beliau untuk minta waktu bimbingan. Ya walaupun aku tau kalo bapaknya nggak mungkin ngebalas chatku sih. Selanjutnya aku cek jadwal ngajarnya dan lokasi ngajarnya karena kampusku ada dua gedung yang berjauhan. Setelah itu aku menunggu beliau kelar ngajar, lalu bimbingan yang hanya memerlukan waktu sangat singkat dibandingkan dengan menunggu beliau mengajar.Setidaknya aku mampu mengejar ketertinggalanku hingga seminar proposal skripsi. Sekarang “tinggal” melanjutkan sisanya.

Adanya wabah pandemi ini semakin mempersulit bimbingan secara tatap muka. Bimbingan online merupakan solusi yang digunakan mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi mereka. Kendalanya seperti yang sudah aku sebutin tadi. Seakan hidup mati skripsi kita berada di tangan dosen pembimbing, bukan di tangan dosen penguji. Jadi bisa dikatakan, “Keaktifan dosen pembimbing dalam bimbingan online berbanding lurus dengan kelulusan mahasiswa”. Tatap muka saja sudah sulit, apalagi secara online. Bersamaan dengan kesulitan yang kita hadapi sekarang. Semakin sering muncul pula pertanyaan – pertanyaan “Kapan Wisuda” dan sebagainya. Makin stress nggak tuh?? Belum lagi kalo udah ortu yang nanya, “Si A udah wisuda duluan, kamu kapan?”. Makin double stressnya, ngebayangin nambah satu semester lagi dan otomatis bayar UKT lagi dong yang ujung-ujungnya nguras kantong ortu lagi.

Ya, mau gimana lagi. Cara terbaik cuma bisa nerima dan ngejalaninnya aja. Semangat!!! Tiap orang punya kesulitan masing-masing dalam mencapai suatu tujuan. Tuhan udah mempersiapkan waktu yang tepat buat kita masing – masing. Nggak perlu iri dengan teman yang udah melangkah duluan. Jangan mencibir mereka “Kamu kan enak, lulusnya sebelum ada wabah”. Jangan yaa. Belum tentu mereka lulus tanpa melewati kesulitan. Lalu sekarang gimana? Berhenti mengeluh, berhenti mengandai “Coba aja aku lulus lebih cepet, pasti…..”, berhenti menyalahkan keadaan. Emang mungkin saat ini masih belum bisa nerima. Tapi harus belajar perlahan tapi pasti, “Pasti lulus kok, semangat”. Jangan nyerah buat bimbingan, kalo mulai bosen ngerjain skripsi bisa cari kegiatan “Kegiatan Penyegar” lain. Jangan baper dengan pertanyaan orang, jadikan penyemangat atau mending dicuekin aja. Mereka yang nyinyir seperti itu nggak tau keadaan aslimu seperti apa. Mereka nggak tau jatuh bangunmu seperti apa. Semakin kamu mempedulikan, maka semakin stress yang berujung jadi malas ngelanjutin skripsi. Kasih semangat juga buat teman – teman yang nasibnya sama seperti kamu. Kamu nggak sendiri, kamu harus berusaha. Yakinkan diri kamu, bahwa “Kamu hebat, kamu bukan pemalas”. Untuk orang terdekat kamu bisa meminta mereka untuk tidak bertanya “Kapan lulus?” tapi berikan opsi pertanyaan yang lain seperti yang aku sebutin diatas atau minta dukungan dan doa dari mereka. Tuhan nggak tidur, Tuhan selalu mellihat segala usahamu. Berpikirlah bahwa saat ini Tuhan lagi nyiapin sesuatu yang indah buat kamu, tapi melalui beberapa ujian untuk meyakinkan bahwa kamu memang patas mendapatkan “Hadiah” itu. Kalo kita berusaha, kita pasti sukses. Semangat!!! Pasti ada jalan kok. :) Mungkin itu aja dulu yang bisa aku sharing, sampai jumpa di tulisanku selanjutnya.