Hallo!!!
Apa kabar kalian pejuang skripsi? Udah
hampir 3 pekan ya jeda kuliah. Selama 3 pekan #dirumahaja selain rebahan ngapain
aja? Mungkin beberapa dari kalian ada yang menghabiskan waktunya buat bantu
ortu, belajar masak, beresin rumah, main game, kelas online, atau belajar
hal baru.
Terus, yang anak semester akhir ngapain
aja nih? Gimana dengan “Skripsi” kalian?? Ada kendalakah?? Atau lancar jaya?? Tentang
apapun yang kamu alamin sekarang yang berkaitan dengan skripsi tetap semangat
dan fokus yaa. 😊
Aku mau bagi dikit
pengalamanku mengenai “Skripsiku”. Mungkin beberapa dari kalian juga punya
cerita yang sama juga kek aku. Kadang mikir nggak sih, angkatan kita nih emang
nggak dari SD, SMP, SMA, bahkan sampai kuliah pun dapat “UJIAN” berat mulu ya. Waktu
SD UN 5 paket, SMP UN 20 paket, SMA make CBT, dan sekarang saat lagi ngerjain
skripsi malah ada wabah Covid-19. Semangat buat kita semua.
Dari awal kuliah semester
awal sampai akhir ini emang banyak banget ya lika-likunya. Awal semester yang
masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru dan menyakinkan diri bahwa “Saya
nggak salah jurusan”. Belum lagi bagi yang nggak terbiasa begadang, saat masuk
bangku kuliahan pasti wajib dah tu ngerasain nggak tidur 2 hari 2 malam buat
ngejar deadline atau bahkan ikut kepanitiaa di kampus. Lalu pertengahan
semester udah mulai nyiapin mau fokus ke konsentrasi apa bahkan udah mulai
nyari bahan buat Tugas Akhir atau yang biasa kita sebut “Skripsi”. Masuklah pada
akhir semester yang menjadi penentu kelulusan.
Kalian anak semester
akhir pasti pernah dapat pertanyaan-pertanyaan dari temen, ortu, bahkan
tetangga di lingkungan tempat tinggal seperti ini:
“Udah dapat judul belum?”
“Kapan seminar proposal, seminar hasil,
sama sidang skripsinya?”
“Kapan wisuda?”
“Kapan nyusul?”
“Si A udah wisuda nih, kok kamu belum? Males
ya ngerjain skripsi?”
Pertanyaan-pertanyaan yang emang nggak
bisa kita hindari sih. Tapi pernah nggak sih lama-lama kesel juga di sambar
pertanyaan itu berulang-ulang? Mungkin ada yang kesel dan ada juga yang cuek
aja.
Kalo
aku sih pernah ngerasain kesel ditanyain hal yang sama bahkan dari orang yang
sama. Emang sih, niat mereka bukan bermaksud mengejek. Tapi mungkin karna aku
orangnya baperan jadi kadang nggak suka aja di hujani pertanyaan seperti itu. Sedangkan
dari aku sendiri untuk bertanya hal seperti itu ke orang lain masih mikir-mikir,
takut ada yang tersinggung. Jadi, lebih sering nanya atau bilang kek gini:
“Gimana proposalnya, dah keterima sama
reviewer?”
“Kabarin ya kalo udah sidang atau wisuda”
“Ada kendala nggak? Semangat ya, pasti ada
jalan keluar kok”
“Coba ke dosen A, minta masukan”.
Ya kembali lagi, tiap orang beda-beda. Balik
lagi ke diri kita masing-masing mau nerima atau nggak.
Cuma
saat ini pasti ada juga nih yang lagi tertekan mikirin nasib kelanjutan dari
skripsi di tengah pendemi yang melanda. SD, SMP, dan SMA ujiannya di hapus.
Lalu, kita yang mahasiswa semester akhir gimana? Pada akhirnya dikembalikan ke
masing-masing kampus sesuai surat edaran dari Kemendikbud. Sebelum ada wabah,
sudah muncul berbagai rintangan seperti rebutan judul sama teman, nyari dosen
pembimbing (beberapa kampus beda kebijakan ada yang dosen pembimbingnya
langsung diberikan dari jurusan ada juga yang perlu nyari sendiri), ngumpulin
data, nyari surveyor, kucing-kucingan sama dosen pembimbing, administrasi yang
ribet, dan masih banyak lagi rintangannya. Sekarang karena ada wabah yang kita nggak
tau sampai kapan kelarnya buat kepala makin pusing aja ya. Hehehehehe.
Bermunculan
solusi lain seperti bimbingan online bahkan beberapa kampus menerapkan kebijakan
lain sebagai pengganti tugas akhir atau skripsi ini. Tapi meurut kalian gimana?
Udah pernah bimbingan online dengan dosen pembimbing? Atau udah ada topik
pengganti skripsi? Kaget iya, kesel juga iya. Mau marah, tapi nggak tau
marahnya ke siapa. Yang ujung-ujungnya di pendem dan jadi stress sendiri. Mikir
hal terburuk misal harus nambah satu semester lagi, takut bayar UKT lagi. Kamu nggak
sendiri. Banyak teman-teman kita ngerasain hal yang sama.
Mengenai
urusan yang berbau admisnistrasi kita hanya bisa pasrah dengan kebijakan dari
kampus nanti. Sekarang yang bikin jadi masalah buat beberapa mahasiswa adalah
susahnya bimbingan secara online dengan dosen pembimbing dan kesulitan mengumpulkan
data bagi mahasiswa yang mengambil penelitiaan yang melibatkan kegiatan diluar
rumah dan bertemu responden. Gimana ya? Walaupun nggak semua dosen seperti ini,
tapi ada saja dosen yang menghilang entah kemana di saat mahasiswanya ingin
bimbingan. Padahal memdapatkan bimbingan merupakan hak mahasiswa dan kewajiban
dosen pembimbing untuk memberikan materi atau bimbingan kepada mahasiswanya. Misal,
ada mahasiwa yang malas ngerjaiin skripsinya dan dosen menolak lain lagi ceritanya.
Itu memang hak dosen menolak mahasiswa yang tidak memiliki tanggung jawab
terhadap skripsinya.
Tapi
bagaimana dengan mahasiswa yang aktif ingin bimbingan tapi malah dosen pembimbingnya
yang terus menghindar? Dichat kadang nggak diread, ketika sudah diread
malah tidak ada balasan bahkan diabaikan. Lebih nyeseknya lagi ketika dosen
pembimbing online dan kita mengechat untuk meminta bimbingan tapi malah
diabaikan sama sekali. Ada juga beberapa kasus dimana sudah janjian ketemuan
dengan dosen pembimbing di kampus dan menunggu berjam-jam, setelah dihubungi kembali
untuk mendapatkan kepastian ternyata beliau ada kesibukan lain.
Aku
mau cerita sedikit tentang kasusku. Dosen pembimbingku udah termasuk dosen
senior di kampus. Aku milih beliau sebagai dosen pembimbing karena lihat dari
jam terbangnya yang menurutku sudah sangat ahli dibidangnya yang sesuai dengan
judul yang aku angkat. Selama awal bimbingan emang agak “seret”, dosenku
hanya bisa ditemui di kampus dan tipe dosen yang bisa dibilang sangat jarang
membalas chat dari mahasiswanya. Kebayang kan gimana susahnya buat ketemuan
dengan beliau. Tahapan bimbingan yang biasa aku lakuin itu pertama pasti selalu
ngabarin ke beliau untuk minta waktu bimbingan. Ya walaupun aku tau kalo bapaknya
nggak mungkin ngebalas chatku sih. Selanjutnya aku cek jadwal ngajarnya dan
lokasi ngajarnya karena kampusku ada dua gedung yang berjauhan. Setelah itu aku
menunggu beliau kelar ngajar, lalu bimbingan yang hanya memerlukan waktu sangat
singkat dibandingkan dengan menunggu beliau mengajar.Setidaknya aku mampu mengejar
ketertinggalanku hingga seminar proposal skripsi. Sekarang “tinggal”
melanjutkan sisanya.
Adanya wabah pandemi ini
semakin mempersulit bimbingan secara tatap muka. Bimbingan online merupakan solusi
yang digunakan mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi mereka. Kendalanya seperti
yang sudah aku sebutin tadi. Seakan hidup mati skripsi kita berada di tangan
dosen pembimbing, bukan di tangan dosen penguji. Jadi bisa dikatakan, “Keaktifan
dosen pembimbing dalam bimbingan online berbanding lurus dengan kelulusan
mahasiswa”. Tatap muka saja sudah sulit, apalagi secara online. Bersamaan dengan
kesulitan yang kita hadapi sekarang. Semakin sering muncul pula pertanyaan – pertanyaan
“Kapan Wisuda” dan sebagainya. Makin stress nggak tuh?? Belum lagi kalo udah
ortu yang nanya, “Si A udah wisuda duluan, kamu kapan?”. Makin double
stressnya, ngebayangin nambah satu semester lagi dan otomatis bayar UKT
lagi dong yang ujung-ujungnya nguras kantong ortu lagi.
Ya, mau gimana lagi. Cara
terbaik cuma bisa nerima dan ngejalaninnya aja. Semangat!!! Tiap orang punya
kesulitan masing-masing dalam mencapai suatu tujuan. Tuhan udah mempersiapkan
waktu yang tepat buat kita masing – masing. Nggak perlu iri dengan teman yang
udah melangkah duluan. Jangan mencibir mereka “Kamu kan enak, lulusnya sebelum
ada wabah”. Jangan yaa. Belum tentu mereka lulus tanpa melewati kesulitan. Lalu
sekarang gimana? Berhenti mengeluh, berhenti mengandai “Coba aja aku lulus
lebih cepet, pasti…..”, berhenti menyalahkan keadaan. Emang mungkin saat ini
masih belum bisa nerima. Tapi harus belajar perlahan tapi pasti, “Pasti lulus
kok, semangat”. Jangan nyerah buat bimbingan, kalo mulai bosen ngerjain skripsi
bisa cari kegiatan “Kegiatan Penyegar” lain. Jangan baper dengan pertanyaan
orang, jadikan penyemangat atau mending dicuekin aja. Mereka yang nyinyir seperti
itu nggak tau keadaan aslimu seperti apa. Mereka nggak tau jatuh bangunmu
seperti apa. Semakin kamu mempedulikan, maka semakin stress yang berujung jadi
malas ngelanjutin skripsi. Kasih semangat juga buat teman – teman yang nasibnya
sama seperti kamu. Kamu nggak sendiri, kamu harus berusaha. Yakinkan diri kamu,
bahwa “Kamu hebat, kamu bukan pemalas”. Untuk orang terdekat kamu bisa meminta
mereka untuk tidak bertanya “Kapan lulus?” tapi berikan opsi pertanyaan yang
lain seperti yang aku sebutin diatas atau minta dukungan dan doa dari mereka. Tuhan
nggak tidur, Tuhan selalu mellihat segala usahamu. Berpikirlah bahwa saat ini
Tuhan lagi nyiapin sesuatu yang indah buat kamu, tapi melalui beberapa ujian
untuk meyakinkan bahwa kamu memang patas mendapatkan “Hadiah” itu. Kalo kita
berusaha, kita pasti sukses. Semangat!!! Pasti ada jalan kok. :) Mungkin itu aja dulu yang bisa aku sharing,
sampai jumpa di tulisanku selanjutnya.